Sebagian teman dekat saya sudah menikah, mereka sudah memiliki kluarga kecil yang sakinah, mawadah dan warohmah. Ingin juga? Tentu saja. Siapa yang tidak ingin segera menemukan ketentraman. Menikah dalah fitrah.Dulu, bayangan saya menikah adalah fase klimaks dari kehidupan kita. Cita-cita terbesar. Siapa cepat meraih cita-cita, dia sukses. Tapi, sepertinya tidak. Karena menikah bukan seperti balap karung, siapa cepet dia menang. Mungkin benar mereka beruntung, karena lebih cepat mempunyai kesiapan dan lebih cepat menemukan calon.
Namun, banyak juga yang sudah menemukan calon tapi belum juga menikah. Apa pertimbangan mereka yang belum berani menikah ?
Saya pernah iseng bertanya pada kakak kelas saya yang belum menikah.
Menurut seorang narasumber (kakak kelas saya, seorang laki-laki 28 thn) ; menikah setidaknya membutuhkan 5 kesiapan;
1). Kesiapan biologis ; Untuk laki-laki yang sudah baligh atau perempuan yang sudah haid, dengan usia 20 thn ke atas, secara biologis dipastikan sudah siap dan aman untuk menikah dan berhubungan seksual.
2). Kesiapan psikologis/psikis ; Ini adalah faktor mental. Tanyalah pada hati nurani sendiri dan jawab dengan jujur . Apakah siap mengemban amanah tersebut ? Apakah siap denga segala resiko ? Kalau masih ragu (entah pada diri sendiri/pada calon) itu artinya belum siap dan sebaiknya jangan dipaksakan.
3). Kesiapan spiritual ; Menurut teman saya tersebut, pasangan yang akan menikah harus mempunyai modal spiritual yang besar. Harus meniatkan ibadah dan bukan menghindari zina. pemahaman agamanya harus kuat. harus mempunyai pedoman, mercusuar untuk mengarahkan bahteranya pada tujuan. (banyak pasangan menikah tanpa ini dan asal menjalani saja).
4). Kesiapan materi; Menikah artinya mandiri. Seperti berdiri pada kaki sendiri. Mandiri artinya biaya sendiri. Bukan berarti harus mempunyai harta yang terkumpul banyak atau warisan dr orang tua. Tapi pasangan yang hendak menikah memang wajib mempunyai sumber pencahariaan. Khususnya suami.
5). Kesiapan keluarga; Artinya adalah dukungan keluarga. Apakar orang tua sudah memperbolehkan? Apakah orang tua menyarankan kita untuk mengabdi dan membantu keluarga dan adik-adik dahulu ? Bagi si sulung, sangat penting menjadi perhatian. Tidak mungkin mereka egois dan tetap menikah tanpa menimbang kondisi keluarganya.
Well. Ternyata banyak pertimbangan. menjadi tidak se simple sebelum saya bahas..,tapi memang tidak perlu dikhawatirkan, karena jodoh, rejeki, maut sebenarnya sudah diaturNya. Tinggal menunggu dengan mempersiapkan bekal sebaik2nya.
Jadi, pasti bukan karena mereka belum siap menikah, tapi masih bersiap-siap :')
Gambar diatas mirip dengan cover salah satu buku kesukaan saya "NPSP" (Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan) karya akh Salim A. Fillah (salah satu isinya seperti yang tertulis diatas). Selesai baca buku itu, dijamin langsung menggebu-gebu & semangat pingin menikah :)
BalasHapussebagai referensi, buku lain yang juga menarik untuk dibaca sebelum menikah (bagi akhwat) yaitu "ABCP" (Agar Bidadari Cemburu Padamu). juga karya Salim A. Fillah.
Semoga bermanfaat..
memang gambar sampul npsp. abcp juga sudah saya baca, buku itu hadiah dari teman saya waktu saya ultah.
BalasHapus