Ketika belanja dengan Ibu, Saya baru benar-benar mengenalnya.
Dirumah, Ibu adalah seorang mentri keuangan. Demikian halnya dirumah saya. Ibu saya adalah orang yang paling hemat (bahasa halus dari sifat irit). Beliau paling perhitungan dalam urusan uang, paling ingat pernah memberi berapa Rupiah kepada anak-anaknya, paling galak pada anak-anaknya yang boros dan paling mencintai uang (dalam artian suka menabung) dan segala bentuk investasi. Dirumah, ayah saya adalah BUMN keluarga, mesin pencetak uang kami. Menurut Ibu, saya dan ayah saya adalah orang yang paling boros, di rumah paling suka membelanjakan uang, paling tidak suka menyimpan uang (dalam artian uangnya tidak pernah bertahan lama). Saya menduga, semua keluarga mungkin sama dengan keluarga saya.
Suatu hari, saya berbelanja dengan Ibu saya. Kami membawa uang tunai pas-pasan (mengingat ibu saya sangat hemat). Kami berbenja pakaian di pasar Klewer, belanja batik untuk kami kirim ke Karimunjawa. Tiba di kios batik pertama, Ibu saya langsung berhenti, melihat-lihat bahkan sepertinya tertarik. Si pemilik kios tentu sangat senang dan mengelurkan semua barang nya yang bagus. Langsung si Ibu tertarik ingin beli (padahal kami belum berkeliling) dan bisa jadi banyak baju yang lebih bagus di kios lain. Oke, kami langsung menawar baju itu. Kami dapatkan, lalu kami kembali berjalan ke kios lain. Yap, si Ibu melihat baju yang sama bahkan dengan harga yang lebih murah. Tapi, yang saya heran si Ibu sepertinya tidak begitu menyesal (atau menyesal tapi tidak mau memperlihatkannya pada saya). Saya pun sok tau menasehati beliau agar bersabar kalau berbelanja. Beliau janji lain kali akan berhati-hati dalam menawar. Kami pun melanjutkan belanja dan mendapatkan barang yang kami cari. Namun, saya heran ketika sampai dirumah, karena belanjaan Ibu malah lebih banyak dan lebih menghabiskan uang. Bahkan untuk barang yang tidak diniatkan membelinya saat dirumah. (Terbukti, siapa yang lebih boros).
Setelah selesai berbelanja, si Ibu bilang ingin membeli Jeruk. Begini kira-kira tawar-menawar tersebut ;
Pedagang : mari bu.. jeruknya..
Ibu : yang ini sekilo berapa Bu..
Pedagang : Rp.8000,00 Bu.. masih segar..
Ibu : Wah, kok mahal.. kan kecil-kecil jeruknya..
Pedagang : Iya Bu, sudah dari sana mahal, saya cuma untung Rp. 1000,00 kok Bu..
Ibu : Ah, masa? Mahal ini Bu, Rp. 6000,00 saja ya.. kecil-kecil gini kok..
Pedagang : Yasudah Bu.. saya timbangkan.
Ibu : Trimakasih.
Wah hebat Ibu saya, (memang sudah seharusnya begitu pikir saya). Eh, taunya saya salah, si Ibu ternyata tetap memberi Rp. 8000,00 pada pedagang tersebut. Ketika saya tanya, beliau bilang merasa kasian pada pedagang tsb yang cuma untung dikit. Jadi Ibu gak tega. Anggap saja amal. Astagaa.. saya jadi ingat, ketika saya disuruh ibu belanja buah Jeruk, saat saya bilang harganya, si Ibu bilang terlalu mahal. Juga ketika saya beli baju, si Ibu bilang terlalu mahal,, modelnya gk bagus lah bla..bla..bla.. ternyata Ibu sendiri gak pandai berbelanja.. sering sekali uang habis di pasar. Padahal dari rumah sudah tidak niat beli macam-macam. Tapi prakteknya ? Ternyata, beliau mengakui memang tidak pandai berbelanja, sehingga lebih baik baginya tidak ke pasar atau uang akan habis lebih banyak.
Ternyata, ayah saya lebih pandai berbelanja, beliau lebih tega menawar kalo di pasar (saya pernah berbelanja di pasar dengan ayah saya) dan menurut saya beliau lebih baik dalam menawar daripada Ibu saya.
Ternyata, sifat seseorang tidak mutlak. Terkadang kita boros, terkadang kita hemat. Terkadang kita keras, terkadang kita lembut. Terkadang kita keras kepala, terkadang bahkan kita sangat lunak. Tidak bisa langsung menilainya.
Dirumah, Ibu adalah seorang mentri keuangan. Demikian halnya dirumah saya. Ibu saya adalah orang yang paling hemat (bahasa halus dari sifat irit). Beliau paling perhitungan dalam urusan uang, paling ingat pernah memberi berapa Rupiah kepada anak-anaknya, paling galak pada anak-anaknya yang boros dan paling mencintai uang (dalam artian suka menabung) dan segala bentuk investasi. Dirumah, ayah saya adalah BUMN keluarga, mesin pencetak uang kami. Menurut Ibu, saya dan ayah saya adalah orang yang paling boros, di rumah paling suka membelanjakan uang, paling tidak suka menyimpan uang (dalam artian uangnya tidak pernah bertahan lama). Saya menduga, semua keluarga mungkin sama dengan keluarga saya.
Suatu hari, saya berbelanja dengan Ibu saya. Kami membawa uang tunai pas-pasan (mengingat ibu saya sangat hemat). Kami berbenja pakaian di pasar Klewer, belanja batik untuk kami kirim ke Karimunjawa. Tiba di kios batik pertama, Ibu saya langsung berhenti, melihat-lihat bahkan sepertinya tertarik. Si pemilik kios tentu sangat senang dan mengelurkan semua barang nya yang bagus. Langsung si Ibu tertarik ingin beli (padahal kami belum berkeliling) dan bisa jadi banyak baju yang lebih bagus di kios lain. Oke, kami langsung menawar baju itu. Kami dapatkan, lalu kami kembali berjalan ke kios lain. Yap, si Ibu melihat baju yang sama bahkan dengan harga yang lebih murah. Tapi, yang saya heran si Ibu sepertinya tidak begitu menyesal (atau menyesal tapi tidak mau memperlihatkannya pada saya). Saya pun sok tau menasehati beliau agar bersabar kalau berbelanja. Beliau janji lain kali akan berhati-hati dalam menawar. Kami pun melanjutkan belanja dan mendapatkan barang yang kami cari. Namun, saya heran ketika sampai dirumah, karena belanjaan Ibu malah lebih banyak dan lebih menghabiskan uang. Bahkan untuk barang yang tidak diniatkan membelinya saat dirumah. (Terbukti, siapa yang lebih boros).
Setelah selesai berbelanja, si Ibu bilang ingin membeli Jeruk. Begini kira-kira tawar-menawar tersebut ;
Pedagang : mari bu.. jeruknya..
Ibu : yang ini sekilo berapa Bu..
Pedagang : Rp.8000,00 Bu.. masih segar..
Ibu : Wah, kok mahal.. kan kecil-kecil jeruknya..
Pedagang : Iya Bu, sudah dari sana mahal, saya cuma untung Rp. 1000,00 kok Bu..
Ibu : Ah, masa? Mahal ini Bu, Rp. 6000,00 saja ya.. kecil-kecil gini kok..
Pedagang : Yasudah Bu.. saya timbangkan.
Ibu : Trimakasih.
Wah hebat Ibu saya, (memang sudah seharusnya begitu pikir saya). Eh, taunya saya salah, si Ibu ternyata tetap memberi Rp. 8000,00 pada pedagang tersebut. Ketika saya tanya, beliau bilang merasa kasian pada pedagang tsb yang cuma untung dikit. Jadi Ibu gak tega. Anggap saja amal. Astagaa.. saya jadi ingat, ketika saya disuruh ibu belanja buah Jeruk, saat saya bilang harganya, si Ibu bilang terlalu mahal. Juga ketika saya beli baju, si Ibu bilang terlalu mahal,, modelnya gk bagus lah bla..bla..bla.. ternyata Ibu sendiri gak pandai berbelanja.. sering sekali uang habis di pasar. Padahal dari rumah sudah tidak niat beli macam-macam. Tapi prakteknya ? Ternyata, beliau mengakui memang tidak pandai berbelanja, sehingga lebih baik baginya tidak ke pasar atau uang akan habis lebih banyak.
Ternyata, ayah saya lebih pandai berbelanja, beliau lebih tega menawar kalo di pasar (saya pernah berbelanja di pasar dengan ayah saya) dan menurut saya beliau lebih baik dalam menawar daripada Ibu saya.
Ternyata, sifat seseorang tidak mutlak. Terkadang kita boros, terkadang kita hemat. Terkadang kita keras, terkadang kita lembut. Terkadang kita keras kepala, terkadang bahkan kita sangat lunak. Tidak bisa langsung menilainya.
wah neng aku juga orang yg gak tegaan mo nawar2 murah gitu... :D
BalasHapushehe.. memang sih.. tp kn harus nego neng.. jadi qt untung, pedagang jg sudah untung. Terkadang penjual mengambil untung terlalu banyak, jd kitanya rugi.. tapi neng, enak lho berdagang tuh.. kan katanya 90% pintu rejeki itu dari perdagangan.. aku jg nek blm dapat kerja juga maudagang saja (dagang:bisnis)
BalasHapus